Kemenangan Sekutu atas Italia (Juni 1943) dan Jerman
(Mei 1945), telah membangkitkan harapan bangsa Korea untuk mencapai
kemerdekaan. Kekalahan Jerman dan tentunya menempatkan Jepang pada posisi yang
sulit karena harus berjuang sendiri melawan Sekutu karena Jepang sendiri berada
dipihak yang sama dengan Jerman dan Italia. Pemboman kota Hiroshima pada
tanggal 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada 9 Agustus 1945 oleh Sekutu, menandai
berakhirnya kekuatan Jepang di wilayah Asia.Uni Soviet yang sudah lama
mengincar wilayah Korea, bergerak maju dan menduduki daerah Manchuria dan
wilayah Korea bagian utara. Amerka Serikat yang tidak menghendaki Uni Soviet
menjadi kekuatan baru di wilayah Asia Timur dan menyebarkan paham komunisnya,
berusaha mencehag Uni Soviet menguasai wilayah Korea.
Pada tanggal 10-11 Agustus 1945, kedua negara
sepakat untuk memebagi wilayah Korea menjadi dua wilayah pendudukan. Korea
bgian utara menjadi wilayah kekuasaan pemerintah komunis Uni Soviet, sedangkan
bagian selatan dibawah kedudukan Amerika Serikat.Wilayah pendudukan kedua
negara dipisahkan oleh garis 38̊ LU. Akhirnya pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang
resmi menyerah kepada Sekutu. Dengan demikian, kekuasaan Jepang di setiap
negara negara yang dijajahnya berakhir. Bagi bangsa Korea sendiri hal itu
berakhir akhir dari masa perjuangan merebut kemerdekaan yang panjang, setelah
selama 35 tahun menderita dibawah penindasan Jepang.
Pada tanggal 8 September 1945, tentara Amerika
Serikat mendarat di Inch’on. Pada tanggal 11 September terbentuk pemerintahan
yang bernama Pemerintahan Militer Amerika Serikatyang menggantikan Pemerintah
Kolonial Jepang. Sementara itu, keberadaan Pemerintahan Sementara Republik
Korea yang berada dibawah pimpinan Kim Ku sama sekali tidak diakui oleh Pemerintah
Militer Amerika Serikat.
Konferensi Tiga Meneri- Amerika Serikat, Inggris dan
Uni Soviet- di Moscow pada bulan Desember 1945, telah memutuskan Korea berada
dibawah perwakilan dan pengawasan Sekutu selama lima tahun. Perwakilan dan
pengawasan terhadap Korea akan dilakukan oleh pemerintah sementara yang akan
didirikan di Korea. Keputusan ini ditentang oleh rakyat Korea yang menginginkan
kemerdekaan penuh bagi negaranya.
Para pemimpin perjuangan Korea merasa perlu
membentuk Komite Persiapan Kemerdekaan dengan maksud untuk mengatasi
kekhawatiran akan hadirnya Sekutu bersama pemerintahan bentukannya di Korea,
yang mungkin dapan mengancam kedaulatan Korea. Para pejuang yang beraliran
komunis berperan dan berpengaruh besar dalam aktivitas komite itu. Akhirnya,
pemimpin nonkomunis mengeluarkan mereka dari keanggotaan komite itu. Hal ini
mendorong kelompok komunis untuk membentuk komite yang berbeda haluan, yaitu
komite sayap kiri, dan menempatkan posisi mereka sebagai pendukung isi
perjanjian Moskow. Pemisahan ini selanjutnya menjadi kendala bagi bangsa Korea
untuk mempersatukan kelompok yang beraliran komunis dan nonkomunis.
Untuk mewujudkan isi perjanjian Moskow, Amrika
Serikat dan Uni Soviet membentuk komisi Gabungan pada bulan Maret 1946. Pada
bulan Mei 1946, perundingan antara kedua negaratersebut mengahadapi jalan
buntu. Hal itu disebabkan keduanya memiliki perbedaan pendapat. Uni Soviet
menghendaki agar partai politik dan organisasi sosial Korea yang menentang
pelaksanaan perjanjian Moskow, tidak diikutsertakan dalam proses perundingan.
Sebaliknya, pihak Amerika Serikat bersikeras agara siapa saja dan kelompok apa
saja berhak mengajukan pendapat dan turut dalam perundingan.
Pada bulan Mei 1947, Komisi Gabungan Amerika Serikat
dan Uni Soviet berunding kembali, tetapi mengalami kegagalan. Akhirnya, Amerika
Serikat mengajukan masalah Korea kepada PBB. Sidang Umum PBB memutuskan bahwa
pemilihan umum untuk memilih presiden Korea akan dilaksanakan di Korea di bawah
pengawasan Komisi Sementara PBB (UNTCOK). Selain tiu, tentara Amerika Serikat
dan Uni Soviet juga akan ditarik segera setelah pemerintahan Korea terbentuk.
Namun pemilihan umum ini tidak dapan dilaksanakan di Korea bagian utara karena
pihak Uni Soviet yang tidak menyetujui hasil keputusan Sidang Umum tersebut,
menghalangi usaha PBB untuk memasuki wilayah utara.
Pemilihan di Korea selatan berlangsung pada bulan
Mei 1948 di tengah kekhawatiran beberapa tokoh Korea Selatan akan terjadinya
pembagian Semenanjung Korea secara permanen. Dari pemilu itu lahir pemerintahan
baru Republik Korea yang berlandaskan sistem demokrasi dan kapitalisme pada
tanggal 15 Agustus 1948 dengan Rhee Syngman sebagai presiden pertamanya.
Pemilihan umum yang berhasil membentuk Republik Korea itu dibalas oleh Korea
Utara dengan mengadakan pemilihan umumnya sendiri pada tanggal 25 Agustus 1948
yang berhasil membentuk Republik Demokrasi Rakyat Korea dengan Kim Il Sung
sebagai perdana menterinya. Kedua pemerintahan itu saling mengklaim bahwa
mereka satu-satunya pemerintahan yang sah di Semenanjung Korea.
Pada akhir tahun 1948 Uni Soviet mengundurkan diri
dari peranannya di Korea Utara dan diikuti oleh Amerika Serikat pada bulan Juni
1949. Mundurnya kedua kekuatan raksasa itu meninggalkan situasi yang sangat
panas di Semenanjung Korea. Terbentuknya dua pemerintahan yang berbeda ideologi
dan berada di bawah pengaruh dua negara adi kuasa ini memupuskan harapan rakyat
Korea untuk mewujudkan suatu bangsa yang merdeka dan bersatu.
Pada bulan januari 1950, Amerika Serikat mengumumkan
bahwa wilayah Korea berada diluar wilayah pengawasan militernya. Kesempatan ini
dimanfaatkan oleh Korea Utara yang sudah lama menginginkan penyatuan Korea
dibawah kekuasaannya untuk menyerang Korea Selatan dan Pada dini hari tanggal 25 Juni 1950, tanpa peringatan atau pernyataan perang, massa tentara Korea Utara melintasi garis batas tiga puluh delapan derajat
dan menyerbu ke bawah bagian selatan. Pasukan Republik yang bertempur dengan gagah berani tidak mampu
menghadapi kaum Komunis yang bersenjata lengkap dengan tank T-34 Rusia. Pemerintahan
terpaksa dipindahkan
ke Pusan dan ribuan warga Seoul melarikan
diri sebelum serangan komunis sampai pada mereka. Mereka tidak diperiksa sampai mencapai Sungai Naktong di wilayah tenggara dekat Daegu.
Republik Korea langsung melakukan protes ke Sekjen PBB. Sebagai tanggapan,
Dewan Keamanan PBB segera mengeluarkan resolusi yang memerintahkan komunis untuk menarik kembali
pasukan ke garis batas tiga puluh delapan derajat dan mendorong
semua negara
anggota PBB untuk memberi dukungan militer kepada Republik Korea
Selatan. Amerika
Serikat segera mendatangkan pasukan dan selanjutnya bergabung Kanada, Australia, Filippines dan Turki. Di bawah komando Jenderal Douglas MacArthur mereka mulai untuk mengambil inisiatif, dan setelah pendaratan kejutan Pasukan
militer AS di Inch'on, pada tanggal 28 September 1950 Seoul akhirnya dapat direbut
kembali dari cengkraman komunis Korea Utara. Pasukan PBB bahkan dapat memukul
mundur pasukan Korea Utara hingga wilayah timur laut Ch’ongjin, Sonch’on dan
daerah sungai Yalu di Hyesanjim.
Namun
demikian, kemenangan tidak berlangsung lama setelah kejadian tersebut maka mendorong Komunis China untuk turun tangan membantu Korea Utara.
Komunis China baru turun tangan pada bulan Oktober. Tentara China muncul dan mengambil alih
strategi, kali ini pasukan
PBB dipukul mundur sampai ke wilayah Sungai Han bagian selatan danSeoul sekali lagi jatuh ketangan komunis pada tanggal 4 Januari 1951. Para pasukan PBB terpaksa berkumpul kembali dan melancarkan serangan balik yang kembali mengambil Seoul pada 12 Maret tahun yang
sama. Serangan
pasukan tersebut berhasil dan
Seoul kembali hingga sampai kurang lebih perbatasan tiga puluh delapan derajat,
di mana konflik itu dimulai.
Pada titik ini Rusia menyerukan perundingan gencatan senjata,
pada awalnya perjanjian gencatan senjata tersebut akan
dilakukan di Kaesong pada bulan Juli 1951, namun akhirnya dipindahkan ke P'anmunjom pada bulan November tahun yang sama. Pembicaraan ini pernah diskors dan berlangsung selama lebih dari setahun sebelum perjanjian akhirnya mencapai
kesepakatan pada tanggal 27 Juli 1953. Melawan kehendak Republik Korea, disepakati bahwa masing-masing pihak harus kembali menarik paksa pasukan sampai batas zona demiliterisasi yang mengikuti garis batas
pertempuran pada saat gencatan senjata mulai berlaku. Tahanan dipertukarkan dan Komite Pengawasan netral didirikan untuk memastikan bahwa kedua belah pihak mematuhi perjanjian. Pertempuran selama tiga tahun telah mengakibatkan banyak kehilangan
nyawa dan harta dari kedua belah pihak, dan unifikasi telah dianggap hampir mustahil tanpa perubahan radikal dalam situasi dunia.
Walaupun
perang Korea hanya berlangsung selama 3 tahun, namun perang tersebut membawa
begitu banyak kesensaraan bagi rakyat Korea. Banyak korban tewas dimedan perang
dan sejumlah besar rumah, pabrik dan harta benda yang lain hancur. Yang lebih
penting perang telah menyebabkan Rakyat Korea mengalamai penderitaan batin
kareka harus hidup terpisah dari sanak saudara, saling mencurigai satu sama
lain dan rasa kepercayaan itu tidak dapat dipulihkan dalam waktu singkat. Dari catatan PBB sebanyak 150.000 orang tewas, 250.000 orang luka-luka,
100.000 orang diculik
oleh komunis, 200.000 orang hilang dan jutaan orang kehilangan tempat
tinggal mereka. Pemimpin komunis
tidak bersedia mengungkapkan kerugian yang mereka alami namun
besar kemungkinan korban dan kerugian mereka jauh lebih besar dibandingkan Korea Selatan. Sebanyak empat kali direbut
dan diambil kembali , Seoul tergeletak dalam reruntuhan, seperti yang terjadi di sebagian besar kota-kota lain di Korea
Selatan. Lebih dari setengah fasilitas industri tidak dapat dipergunakan lagi, banyak jalan dan jembatan hancur dan seluruh desa telah hancur di banyak daerah. Tetapi kerusakan paling parah adalah impian Korea untuk bersatu. Ini bukan hanya masalah yang menjadi perhatian untuk Korea saja, tetapi telah menjadi isu dalam konflik dunia yang dikenal
sebagai Perang
Dingin. Sekali
lagi Korea dipaksa menderita
karena benturan kekuasaan yang lebih besar dari kekuasaan Korea itu sendiri.
Han,Woo-Keun. 1994. The
History of Korea. Seoul Korea:
Eun-Yoo Publishing Company.
Kim,Chum-Kon. 1973. The
Korean War. Seoul Korea: Kwangmyong Publishing Company.
Yang dan
Setiawati. 2003. Sejarah Korea: Sejak
awal abad hingga masa kontemporer. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Suryo, Djoko dkk. 2005. Sejarah
Korea. Yogyakarta: Pusat Studi Korea Universitas Gadjah Mada dengan The
Academy of Korean Studies, Korea

Tidak ada komentar:
Posting Komentar