Minggu, 18 November 2012

SASTRA KOREA KLASIK (Opo kui? hihihi^^)


1. Hyangga

Sejak awal musik dan tari memegang peran yang penting bagi masyarakat Korea, dan karena hal itu banyak orang Cina yang tertarik. Sejak ada sistem huruf beberapa syair personal ditemukan tetapi karena tidak sesuai zaman maka sudah tidak ditampilkan. Hyangga adalah puisi-puisi yang ditulis dalam sistem penulisan asli, ditulis pada tiga negara, silla bersatu, dan periode awal goryeo dalam sejarah korea. Hanya sebagian kecil yang tersisa. Total jumlahnya berkisar antara 25 dan 27, tergantung pada hyangga tertentu yang dianggap asli atau tidak.
Nama hyangga didapatkan dari huruf “desa” atau “desa kecil,” (digunakan oleh orang silla untuk menggambarkan bangsa mereka) dan huruf “lagu.”  Puisi2 ini kadang disebut juga lagu silla.
Hyangga merupakan sastra Korea klasik jenis puisi yang unik. Ditulis ulang kebahasa Cina dengan sistem fonetik yang disebut hyangch’al, mirip dengan Man’yeosheu (c. 759). Hyangga awal dipercaya ditulis dalam periode goryeo, karena gaya penulisan ini mulai hilang. Contoh dari Hyangga terdiri dari 25, 14 dalam buku memorabilia and Mirabilia of the Three Kongdoms (sangug Yusa, 1285) dan 11 pada buku Life of the Great Master Kyunyeo (Gyunyeojeon. Wihong, suami ratu jinseong dari silla,) dan biksu taegu hwasong menyusun buku tentang hyangga.
Jenis syair yang ditulis dalam aksara tionghoa dengan sistem idu. 20 dari 25 Hyangga berisi tentang ajaran Buddha, merefleksikan kehidupan masa kerajaan Silla dan Goryeo yang pada saat itu sedang dipengaruhi oleh Buddha.
Hyangga masih mengikuti aturan/ bentuk formal dan biasanya tersusun atas 4, 8 dan 10 bari Puisi dengan 10 baris adalah yang paling berkembang, dibentuk menjadi tiga bagian dengan 4, 4, dan dua baris bergantian. Kebanyakan puisi sepuluh baris ditulis oleh pendeta budha, sehingga tema – tema tentang agama budha mendiminasi puisi jenis ini. 
Biasanya berbentuk balada dan berisi tentang kesadaran kehidupan beragama dan bangsawan-bangsawan. Tema lain yang dominan adalah kematian. Banyak diantara puisi ini adalah puji-pujian bagi pendeta, ksatria, dan anggita keluarga, contohnya kepada saudara perempuan. Periode silla khusunya sebelum penyatuan pada 6698 adalah saat – saat perang dan hyangga menceritakan kesedihan dan duka bagi yang meninggal, sedangkan agama budha memberikan penjelasan tentang kemana mereka pergi dan kehidupan sesudah mati.
Hyangga yang umum adalah “Ode untuk kehidupan abadi,” atau mungkin “ode untuk surga.” Puisi ini adalah lagu yang memanggil bulan untuk menyatakan doa untuk surga barat, rumah Amita (atau amitabha – surga barat budha). Penulis puisi ini masih belum jelas, ada yang mengatakan bahwa penulisnya adalah seorang biksu bernama Gwangdeok, atau sumber lain mengatakan bahwa penulisnya adalah istri sang pendeta. Meskipun demikian Hyangga sebagian besar ditulis oleh prajurit.

2.  Goryeo Gayo atau Lagu Goryeo
Merupakan contoh puisi Korea jaman pertengahan yang memiliki ciri pengulangan refren yang menunjukan asal musik tradisional dan transmisi oral mereka. Biasanya dinyanyikan dengan diiringi musik terutama suara drum dan oleh penyanyi perempuan yang diberi nama kisaeng. Jeong Cheol, seorang penyair pada abad 16, dikenal sebagai orang yang menyempurnakan bentuk puisi ini, yang terdiri atas baris paralel, tiap barisnya terbagi menjadi dua atau empat unit suku kata. Goreo Gayo muncul setelah hilangnya Hyangga pada dinasti Goryeo.
Goryeo gayo mempunyai bentuk khusus yakni byeolgok. Goryeo gayo dibagi dalam dua jenis yakni dallyeonche dan yeonjanche . Dallyeonche tersusun atas satu bait sementara yeonjanche tersusun atas banyak bait.  Satu syair yang terkenal adalah Gwandong byeolgok (byeolgok pesisir timur) yang menceritakan keindahan pantai di laut timur Gangwon.
Identitas penulis Goreo Gayo biasanya tidak dikenal atau anonim. Merupakan jenis sastra lisan yang dinyanyikan tetapi pada dinasti choson ini direkam dan ditulis ke naskah yang berbahasa Korea.
Lebih bebas dan tidak terikat oleh aturan formal (puisi bebas). Biasanya berisi realitas kehidupan dalam cinta, kehidupan sehari hari dan keindahan alam.

3. Sijo
Sijo adalah bentuk puisi yang mewakili periode Choson, berkembang pesat pada masa Choson meskipun pada masa akhir Goryeo Gayo sudah ada. Merupakan karya sederhana namun artistik
Sijo ditulis menggunakan bahasa asli Korea bukan dengan aksara Cina. Sijo terdiri dari 3 bait dengan masing-masing bait terdiri atas 4 kalimat. Tiga baris dengan 14-16 suku kata, total dalam sebuah sijo, 44-46 (tema (3, 4, 4, 4); pengembangan (3, 4, 4, 4), balasan untuk tema, (3,5) dan pelengkap (4,3). Sijo bisa dalam bentuk naratif atau tematik dan memperkenalkan situasi pada baris 1, perkembangan pada baris 2, dan kseimpulan dan akhir yang berbeda pada baris ke 3. Setengah pertama baris terakhir menunjukkan “twist/ pemelintiran/ akhir yang berbeda;” makna, suara, dan hal lain yang mengejutkan. Sijo sering sangat liris dan bersifat pribadi dibanding bentuk puisi asia timur lain, namun “kesimpulan dari sijo sering epigramatis atau mengejutkan”
Sijo sebagian besar ditulis oleh penyair penyair yang masih menguasai tentang konfusianisme, dan biasanya bertema kesetiaan. Dan selain itu tema tentang bukolik, metafisik, dan kosmologis adalah yang peling sering dipelajari.
Beberapa penyair Sijo yang terkenal antara lain Hwang Chin-i (c. 1506-1544) dan Cheong Ch’eol (1537-1594).
Sijo merupakan bentuk puisi yang paling populer dari Korea, digemari oleh kaum bangsawan sampai rakyat jelata diekspersikan dengan unsur unsur dari alam. Lalu semakin lama sijo dimasukan unsur satir dan humor berisi kritikan dan sindiran.

4. Kasa
Kasa juga muncul dan berkembang pesat di zaman Joseon, terutama pada kalangan bangsawan. Merupakan lirik lagu untuk nada Kasa, tidak ada pembagian stansa. Panjangnya Kasa  bervariasi tetapi cenderung panjang. Dan cenderung beisi deskripsi dan eksposisi, begitu juga liris. Bentuk Kasa merupakan bentuk bait yang sederhana, dengan tiga bait yang memiliki 3 hingga 4 suku kata per baitnya yang diulang empat kali. Karena sifat isinya yang berbeda-beda, ada beberapa yang melihat Kasa sebagai semacam esai, seperti dalam periode awal Joseon misalnya, Kasa seperti Chong Kuk-in's Sangch'un-gok (Tune in Praise of Spring), Song Sun's Myonangjongga (Song of Myonangjong Pavilion), dan Chong Ch'iol's Kwandong pyolgok (Song of Kwandong), Samiin-gok (Song in Recollections of a Beautiful Woman) dan Songsan pyolgok (Song of Mt. Songsan), dan lain sebagainya.
Kasa muncul sebagai genre baru pada pertengahan abad ke15 bentuknya lalu disempurnakan oleh beberapa ahli yaitu Cheong Ch’eol (1537-1594) dan Heo Hanseorheon (1563-1585).Kasa berisikan tema-tema yang umum seperti ekspresi perasaan, keindahan alam, cinta pria wanita (kesetiaan), kehidupan manusia, hubungan manusia dengan alam, dan pencerahan rohani. Merupakan transisi dari puisi ke Prosa puisi. Tidak terbatas ekspresi individual tertapi mencakup nasihat moral.Selain itu terdapat naebang kasa (kasa of the women's quarters) yang ditulis oleh perempuan. Kasa ini mendapatkan popularitas luas. Secara khusus, kasa pada periode terakhir mengalami perubahan bentuk, menjadi lebih panjang dan membosankan.

Pustaka acuan :

Wikipedia.com
Lee, Peter H. 1981. Anthologi of Korean Literature. University of Hawaii press.




21 komentar:

  1. Susah banget nyari blog anak sastra korea UGM akhirnya ketemu juga. hehehe...
    Mbak, mau tanya dong, persemester sastra korea UGM berapa sih? ><
    mohon bantuannya ya (_ _)
    Gamsahamnida

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wowww..aku jg da lama gk buka blog ini^^"
      Bahasa Korea bukan Sastra Korea.. di UGM semua jurusan bayarnya sama, dihitung perSKS, 60rb/SKS plus SPP 540rb/semester, klo blom naek. heheheee... Suka Korea ya?

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. kak, kalo di sastra korea ugm yang dipelajari apa aja? asik nggak sih kak? oiya terus ujiannya meliputi apa aja kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Nelly..

      Di UGM belum ada Sastra Korea, tapi Jurusan bahasa korea namanya:) belajar everything about Korea; ada bahasa, budaya, sastra, sejarah bahkan bisa punya banyak temen orang Korea asli! hohohoooo...

      Hapus
  4. kak, di ugm itu sebenernya adanya itu sastra korea atau bahasa korea sih? :o

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti jawaban di atas, adanya 'bahasa Korea', belum jadi Sastra Korea:)mungkin namanya suatu hari bisa berubah, samapi kakak lulus namanya masih ituuu,huhuhu..

      Hapus
  5. kak akun twitter kakak apa?mau tanya2 nih :) minat banget ke bahasa korea UGM soalnya.

    BalasHapus
  6. disearch aja uli_damdam (twitter)or uli ranu (facebook), tapi kakak jarang ol, agak sok sibuk kerja, hehehee..

    BalasHapus
  7. ka, kalo mau masuk fakultas bahasa korea, kebanyakan dari jurusan apa? terus persyaratannya apa saja?
    kalo ada waktu luang, tolong di jawab ya ka, terimakasih ^^

    BalasHapus
  8. kak mau tanya dong. Kalo masuk ke jurusan bahasa/sastra korea itu emang dasar bahasa koreanya harus udah bagus ya? thanks :D

    BalasHapus
  9. Nggak lah^^ aku dulu blank sama sekali.haha

    BalasHapus
  10. Kak dulu masuknya ke bahasa korea ugm lewat jalur apa ya kak??

    BalasHapus
  11. Masuknya lewat SPMB, pilihan kedua T__T

    BalasHapus
  12. Kak belajarnya gimana ya? Tahaun 2014 ini masih bahasa korea atau udah jadi sastra korea kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya masih Jurusan Bahasa Korea deh, hehee..nnati didalemnya ada pelajaran kebudayaan dan sastra Korea juga^^

      Hapus
  13. ka kalo dijurusan bahasa korea prospek setelah lulusnya bagaimana? kan kalo tidak salah jurusan ini masih jarang di indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya masih jarang.. prospeknya bisa kemana-mana.. ada ceritanya di tulisan aku yg baru:) coba dilihat yaa^^

      Hapus
  14. Ladies, blog aq jangan lupa difollow yach?^* terima kasih..

    BalasHapus
  15. Mbak uli... Akun instagram-mu apa mbak... Wuahh... Blognya keren mbk,, terus nulis y mbk.....

    BalasHapus
  16. Awalnya lihat film-film Korea tentang kerajaan di Korea.. jd tertarik sama budaya orang Korea.. menurutku orang Korea tu peradabannya maju sejak jaman dahulu.. skrg jadi tertarik menggalinya..
    Mungkin kakak bisa nerjemahin sejarah budaya Korea jaman dahulu,,mau dong....

    BalasHapus