Pengertian Konfusianisme
Konfusianisme, Taoisme, dan Buddha merupakan tradisi kepercayaan Korea di masa lalu. Namun Konfusianisme telah mendarah daging dalam kehidupan bermasyarakat di Korea. Konfusianisme adalah suatu ajaran filosofi moral yang masuk ke Korea dari Cina pada zaman Tiga Kerajaan. Dalam ajaran ini dikenal lima dasar hubungan antar manusia:
1. Hubungan antara penguasa dengan rakyat
2. Hubungan antara ayah dengan anak laki-lakinya
3. Hubungan antara seorang laki-laki dengan istrinya
4. Hubungan antara kakak dengan adik
5. Hubungan antar teman.
‘Kesetiaan’ dan ‘kesolehan’ merupakan wujud kewajiban paling utama yang harus selalu dipatuhi dalam menjalani kelima hubungan tersebut.
Penemu Konfusianisme adalah Konfusius yang nama asli ajarannya adalah “yu” (Kementrian Kebudayaan dan Olahraga Republik Korea, 1997:57). Nama asli Konfusius sendiri adalah Kong Fuzi atau Master Kung. Konfusius merupakan bahasa latin dari nama Cinanya (Dorothy, 2004:8).
Beberapa aspek ajaran konfusianisme yang memberi andil yang besar pada pembentukan masyarakat Korea antara lain: pertama, Konfusianisme menawarkan standart moral yang meliputi moral individu, aturan moral dalam hidup bermasyarakat dan aturan moral yang berhubungan dengan negara. Moral-moral tersebut didasari pada 5 nilai utama, yaitu kebajikan, kebenaran dan keadilan, etika, kebijaksanaan dan kepercayaan. Kedua, Konfusianisme menekankan pendidikan. Konfusianisme berpengaruh pada tujuan, metode dan kurikulum sekolah. Baik pada pendidikan formal di sekolah maupun pendidikan informal yang dilakukan di rumah, konfusianisme mempunyai peran dalam membentuk karakter orang Korea. Ketiga, ritual Konfusian pada pemujaan leluhur menjadi sebuah bagian yang utuh dari kehidupan Korea. Upacara tersebut biasanya dipraktekan saat upacara pemakaman, tradisi Konfusianisme diterapkan dalam percakapan sehari-hari. Keempat, Pandangan orang Korea tentang manusia dan dunia sangat dipengaruhi ajaran konfusianisme. Ajaran Konfuisianisme tetap kuat dalam kehidupan masyarakat Korea walaupun perannya semakin berkurang (Keum, 2000:33-34).
Masuknya Konfusianisme ke Korea secara tidak langsung mempengaruhi kebudayaan Korea. Ada tiga cara dimana Konfusianisme mempengaruhi kebudayaan Korea yakni, pengaruh budaya, pengaruh politik, dan pengaruh sosial. Pengaruh budaya dimana Konfusianisme mempengaruhi seni, huruf, pendidikan, dan filosofi. Ini adalah tahap pertama dalam mempengaruhi kerajaan kuno di Korea. Pengaruh politik dibangun pada budaya yang telah terpengaruh (Grayson, 2002:49).Konfusianisme dan mengadopsi perkembangan filosofi politik yang mengawali peciptaan birokrasi negara dan struktur pemerintahan formal dengan berbagai fungsi politik dan memeriksa fungsi pemerintahan. Kemudian pengaruh sosial dimana Konfusianisme merestrukturisasi asas masyarakat, meliputi adat istiadatdan nilai, terutama perubahan dalam hubungan sosial. Ini adalah tahap terakhir Konfusianisme di Korea. Sampai pada dinasti Choson, pengaruh Konfusianisme di Korea sangat besar di are politik dan urusan kebudayaan, hampir tidak menyentuh lingkungan sosial
Perkembangan Konfusianisme di Korea.
Konfusianisme di Korea berkembang dari masa ke masa. Konfusianisme berkembang pertama kali dari Tiga Kerajaan dan semakin berkembang di masa Dinasti Koryo, Choson, setelah kemerdekaan dan pada masa budaya kontemporer Korea.
1) Konfusianisme Pada Masa Tiga Kerajaan.
Konfusianisme masuk ke Korea dari Cina melalui politik dan kebudayaan. Tidak ada tanggal pasti mengenai masuknya Konfusianisme dari Cina ke Korea, namun bukti-bukti menunjukan bahwa Konfusianisme datang sebelum masa Tiga Kerajaan. Oleh karena itu diasumsikan bahwa Konfusianisme diperkenalkan ke Korea antara 403-221SM (Keum, 2000:34).
Tiga kerajaan merupakan gabungan dari kerajaan Koguryo, Paekche, dan Silla. Raja Jumong mendirikan Kerajaan Koguryo pada tahun 37 SM, Raja Oryo mendirikan Kerajaan Paekche pada 18 SM, dan Kerajaan Silla pada tahun 57 SM dengan raja pertamanya Pak Hyogose (Yang dan Setiawati, 2003: 15).
Kerajaan Koguryo berlokasi paling dekat dekat dengan tiongkok, daerah Yomyong, Liaoning, sekarang terletak di wilayah Manchuria. Koguryo pertama kali mengadopsi Budaya Tiongkok dan Buddha. Konfusianisme pertama kali diterima di Koguryo kemungkinan sejak abad ke-4 Masehi, lalu berturut-turut ke Paekche dan Silla, saat ketiga negara telah mencapai tingkat kematangan (Grayson, 2002:49).
Di abad ke-4 seperti Koguryo dan Paekche mengadopsi dan menyerap Konfusianisme dari Cina. Pengadopsian pengetahuan mengenai Konfusianisme dan sistem pendidikan Konfusianisme adalah sebuah arti penting budaya dan standar politik Korea yang tinggi. Pengadopsian Konfusianisme di satu bentuk atau lainnya tidak berarti negara itu kemudian menjadi masyarakat Konfusianisme, tetapi hanya menerima pengaruh Konfusianisme yakti budaya alam (Grayson, 2002:49).
Pada akhir pertengahan abad ke-4 banyak muncul sekolah-sekolah yang berbasis kepada ajaran-ajaran Konfusianisme. Peristiwa besar yang terjadi di akhir pertengahan abad ke-4 adalah penerapan ajaran Konfusianisme. Tulisan-tulisan tentang Konfusianisme yang disusun wajib dibaca di sekolah resmi yang pertama didirikan di Koguryo pada 375 M (Keun, 2000:35). Pendirian akademi ini diikuti segera dengan pembinaan berbagai akademi swasta bernama Kyongdang. Meskipun tujuan sekolah-sekolah ini untuk mendidik pemuda Koguryo dengan ideologi Konfusianisme klasik, literatur Cina, dan bela diri, aturan mereka dengan membatasi merusak salah satu aspek penting Konfusianisme (Grayson, 2002: 49-50). Di selatan Paekche, seorang cendikiawan bernama Kohung menyusun sebuah buku sejarah (sogi), yang ditulis pada masa Cina klasik tahun 375. Koguryo menggunakan Tao sebagai prinsip panduan Konfusianisme. Tidak hanya Koguryo, paekche dan Silla juga melaksanakan ajaran Konfuasianisme yang idela bagi pemerintahan (Keum, 2000:35).
Kerajaan Silla merupakan kerajaan terakhir yang mendapat pengaruh Konfudianisme pada masa Tiga Kerajaan setelah Koguryo dan Paekche yang sudah mendapatkan pengaruh Konfusianisme bertahun-tahun sebelumnya. Pada masa Silla terdapat Kukhak, yakni sekolah yang mengajarkan Konfusianisme yang dikelola oleh para ahli Konfusianisme dan pembantunya (Yang dan Setyawati, 2003: 36). Loyalitas, bakti, dan keberanian antara kebajikan-kebajikan utama yang beranggotakan pemuda Hwarang Silla, terkemuka dalam pengetahuan dan seni bela diri. Kebajikan-kebajikan ini juga merefleksikan nilai-nilai Konfusianisme yang dipegang secara luas oleh mereka. Konfusianisme sesuai dengan keadaan manusia, sedangkan ajaran Buddha lebih memperlihatkan masalah rohani. Orang-orang Silla lebih tertarik kepada Konfusianisme dibanding Buddha. Konfusianisme merupakan elemen penting dalam filosofi sosial pada era Tiga Kerajaan, suatu masa dimana Buddha juga berkembang (Keum, 2000:35-36)
2) Konfusianisme Pada Masa Dinasti Koryo
Koryo berdiri pada tahun 918 dengan Raja Taejo sebagai raja pertama. Kebudayaan bangsa Korea yang berlandaskan Konfusianisme berkembang pesat pada masa ini (Yang dan Setiawati, 2003: 42). Pada masa Kerajaan Koryo perkemabangan bangsa Korea tidak hanya pada kebudayaan yang berlandaskan Konfusianisme tapi juga perkembangan pendidikan mengenai Konfusianisme. Pertumbuhan institusi pendidikan Konfusianisme dimulai pada abad ke-10 dan terus berlanjut sampai abad ke-11. Terutama penting bagi penciptaan sekolah swasta pendidikan Konfusianisme. Sebelumnya, pendidikan formal Konfusianisme merupakan hak khusus pemerintahan (Grayson, 2002:90).
Selama masa pemerintahan raja Songjong fungsi upacara pada leluhur didedikasikan untuk surga. Pengabdian kebajikan orang-orang Korea semula didedikasikan untuk konfusius. Neo-konfusianisme menjadi gelombang baru di Korea menjelang akhir dinasti Koryo (Keum, 2000: 37). Neo-konfusianisme memiliki perbedaan yang besar dalam memandang alam semesta dan dunia dibanding Buddha. Neo-konfusianisme percaya bahwa seseorang harus menerima dan mengerti sifat dasar dari alam semesta dan mendirikan filosofi pemerintahannya dan bekerja lebih keras untuk mengatasi permasalahan kehidupan sehari-hari (Yi, 1997;16-17).
Konfusianisme di Korea berpindah dari satu diantara pengaruh beberapa politik dan budaya menjadi pengaruh sosial utama. Dalam era ini, sistem Konfusianisme sosial yang sesungguhnya mulai muncul (Grayson, 2002: 104).
3) Neo-konfusianisme Pada Masa Dinasti Choson
Choson berdiri pada tahun 1392 dengan raja pertamanya Yi Song-gye. Pada masa Choson ilmu Konfusianisme dijadikan sebagai dasar teori dalam memerintah kerajaan (Yang dan Setyawati, 2003: 65).
Penciptaan pemerintahan baru Choson tidak hanya melahirkan dinasti Korea baru, tetapi juga membuat ajaran Konfusianisme lebih kuat. Berbeda dari dinasti lain terdahulu, ideologi Kerajaan Choson berdasar pada filosofi Konfusianisme. Dari abad ke-5, pengaruh Konfusianisme menjadi penanda pengaruh sosial bukan sekedar pengaruh politik dan sosial (Grayson, 2002: 112). Struktur pemerintahan dipengaruhi untuk dapat mendirikan kerajaan yang berlandaskan Konfusianisme (Yang dan Setyawati, 2003: 65). Dalam proses pengembangan institusi dan penguatan ekonomi pada abad ke-15, praktek etika dan aspek ritual Neo-konfusianisme menekankan pada aspek filosofi di Choson (anonim a, 20002: 67).
Pada awal abad ke-17, Neo-konfusianisme berkembang dengan penanganan khusus pada ajaran etika. Ajaran Neo-konfusianisme berpusat pada ritual keluarga. Periode ini melihat pembudayaan etiket populer dan untuk mengerahkan pengaruh yang lebih besar pada kehidupan masyarakat. Etiket keluarga bervariasi atara strata masyarakat yang berbeda-beda, tapi secara luas dipraktekan oleh keluarga biasa. Meskipun berbeda dengan penerapannya, akan tetapi semua praktek didirikan oleh prinsip yang sama ( Keum, 2000: 41). Pada abad ini, ahli Neo-konfusinisme menegaskan kekuatan mereka walaupun terjadi kerusuhan didalam dan diluar. Invasi Jepang pada 1592 dan 1597 serta invasi Manchu pada 1636 memberikan sebuah kesempatan untuk menguji kembali peran Neo-konfusianisme sebagai ideologi dominan. Pembelajaran ritual berkembang pesat pada abad 17 sebagai sebuah pelajaran ilmiah. Pembelajaran dinamakan “Masa Pembelajaran Agama” dan banyak kontroversi terjadi pada saat itu (anonim a, 2002: 74-79).
Awal abad ke-18, kontroversi menggelora diantara ahli Neo-konfusianisme seperti perbedaan klasik antara manusia dan persoalan yang ada. Peristiwa ini membuktikan bahwa Non-konfusianisme di Kerajaan Choson diperhatikan dengan fokus studi kemanusiaan (Keum, 2000: 42).
Ketika Katolik masuk ke Korea pada 1784, Neo-Konfusianisme berusaha menekan usaha masuknya agama ini ke Korea. Rintangan besar menerima Katolik oleh masyarakat Choson adalah Katolik melarang pemujaan kepada leluhur, upacara Konfusianisme yang paling dasar. Kekerasan dan sistem kepercayaan fanatik masyarakat Choson yang diatur oleh Konfusianisme, menolak masuknya Katolik (Keum, 2000: 43-45).
4) Konfusianisme Pada Masa Kemerdekaan
Bersama dengan bebasnya Korea dari Jepang pada 1945, Para ahli Konfusianisme membangun kembali jaringan organisasi mereka. Pada bulan Maret 1946, perwakilan berkumpul untuk membuka pusat Yudohe (Masyarakat Konfusius). Sebagai afiliasinya yayasan Songgyun’gwan didirikan untuk mengambil alih manajemen Songgyun’gwan ( Akademi Konfusius Nasional) di Seoul dan Hyanggyo (akademi lokal) dibagian lain Korea. Pada bulan Sepetember tahun 1946 didirikan Universitas Songgyun’ gwan atas usaha Kim Chang- Suk (Keum, 2000:46).
Pada tahunn 1980, pengikut ajaran Konfusius mengadakan inagurasi Lembaga Penelitian Konfusius pada 1985 untuk mendorong penelitian ilmiah melalui seminar berkala dan terbitan jurnal yang mendorong sebuah reinterpretasi modern ideologi Konfusius Tradisional (Keum, 2000: 49).
5) Konfusianisme dan Budaya Komtemporer Korea
Saat ini, nilai-nilai modern barat mengancam nilai-nilai ortodoks Konfusianisme tradisional Korea. Kebudayaan Korea mengakar kuat pada Konfusianisme dimana bertanggung jawab untuk mempertahankan peninggalan negara yang dihormati dan memperkaya perkembangan kebudayaannya.
Pertama, Konfusianisme harus mendukung integritas dan keberlanjutan sejarah Korea dengan reformasi dan menyesuaikan diri dengan masyarakat kontemporer. Kedua, Konfusianisme bisa memberikan masyarakat kontemporer Korea dengan sebuah standar praktik pelaksanaan dalam bentuk ritual dan etiket. Ketiga, Konfusianisme memperkuat struktur masyarakat. Keempat, moral Konfusius dan karakternya dikontribusikan untuk kehidupan masyarakat Korea di masa kini. Kelima, semangat Konfusius akan dijalankan sebagai tenaga penggerak manusia untuk mencari keadilan.
Konfusianisme Korea adalah sesuatu di masa lalu. Konfusianisme masih bertahan sampai saat ini. Tugas mendesak bagi komunitas Konfusius Korea adalah menyesuaikan fungsinya pada kondisi yang berlaku di masyarakat modern melalui sebuah reformasi dinamis dan aktivitas (Keum, 2000: 49-51)
Nilai-nilai Ajaran Konfusianisme
1) Konfusianisme Pada Masa Tiga Kerajaan.
Konfusianisme masuk ke Korea dari Cina melalui politik dan kebudayaan. Tidak ada tanggal pasti mengenai masuknya Konfusianisme dari Cina ke Korea, namun bukti-bukti menunjukan bahwa Konfusianisme datang sebelum masa Tiga Kerajaan. Oleh karena itu diasumsikan bahwa Konfusianisme diperkenalkan ke Korea antara 403-221SM (Keum, 2000:34).
Tiga kerajaan merupakan gabungan dari kerajaan Koguryo, Paekche, dan Silla. Raja Jumong mendirikan Kerajaan Koguryo pada tahun 37 SM, Raja Oryo mendirikan Kerajaan Paekche pada 18 SM, dan Kerajaan Silla pada tahun 57 SM dengan raja pertamanya Pak Hyogose (Yang dan Setiawati, 2003: 15).
Kerajaan Koguryo berlokasi paling dekat dekat dengan tiongkok, daerah Yomyong, Liaoning, sekarang terletak di wilayah Manchuria. Koguryo pertama kali mengadopsi Budaya Tiongkok dan Buddha. Konfusianisme pertama kali diterima di Koguryo kemungkinan sejak abad ke-4 Masehi, lalu berturut-turut ke Paekche dan Silla, saat ketiga negara telah mencapai tingkat kematangan (Grayson, 2002:49).
Di abad ke-4 seperti Koguryo dan Paekche mengadopsi dan menyerap Konfusianisme dari Cina. Pengadopsian pengetahuan mengenai Konfusianisme dan sistem pendidikan Konfusianisme adalah sebuah arti penting budaya dan standar politik Korea yang tinggi. Pengadopsian Konfusianisme di satu bentuk atau lainnya tidak berarti negara itu kemudian menjadi masyarakat Konfusianisme, tetapi hanya menerima pengaruh Konfusianisme yakti budaya alam (Grayson, 2002:49).
Pada akhir pertengahan abad ke-4 banyak muncul sekolah-sekolah yang berbasis kepada ajaran-ajaran Konfusianisme. Peristiwa besar yang terjadi di akhir pertengahan abad ke-4 adalah penerapan ajaran Konfusianisme. Tulisan-tulisan tentang Konfusianisme yang disusun wajib dibaca di sekolah resmi yang pertama didirikan di Koguryo pada 375 M (Keun, 2000:35). Pendirian akademi ini diikuti segera dengan pembinaan berbagai akademi swasta bernama Kyongdang. Meskipun tujuan sekolah-sekolah ini untuk mendidik pemuda Koguryo dengan ideologi Konfusianisme klasik, literatur Cina, dan bela diri, aturan mereka dengan membatasi merusak salah satu aspek penting Konfusianisme (Grayson, 2002: 49-50). Di selatan Paekche, seorang cendikiawan bernama Kohung menyusun sebuah buku sejarah (sogi), yang ditulis pada masa Cina klasik tahun 375. Koguryo menggunakan Tao sebagai prinsip panduan Konfusianisme. Tidak hanya Koguryo, paekche dan Silla juga melaksanakan ajaran Konfuasianisme yang idela bagi pemerintahan (Keum, 2000:35).
Kerajaan Silla merupakan kerajaan terakhir yang mendapat pengaruh Konfudianisme pada masa Tiga Kerajaan setelah Koguryo dan Paekche yang sudah mendapatkan pengaruh Konfusianisme bertahun-tahun sebelumnya. Pada masa Silla terdapat Kukhak, yakni sekolah yang mengajarkan Konfusianisme yang dikelola oleh para ahli Konfusianisme dan pembantunya (Yang dan Setyawati, 2003: 36). Loyalitas, bakti, dan keberanian antara kebajikan-kebajikan utama yang beranggotakan pemuda Hwarang Silla, terkemuka dalam pengetahuan dan seni bela diri. Kebajikan-kebajikan ini juga merefleksikan nilai-nilai Konfusianisme yang dipegang secara luas oleh mereka. Konfusianisme sesuai dengan keadaan manusia, sedangkan ajaran Buddha lebih memperlihatkan masalah rohani. Orang-orang Silla lebih tertarik kepada Konfusianisme dibanding Buddha. Konfusianisme merupakan elemen penting dalam filosofi sosial pada era Tiga Kerajaan, suatu masa dimana Buddha juga berkembang (Keum, 2000:35-36)
2) Konfusianisme Pada Masa Dinasti Koryo
Koryo berdiri pada tahun 918 dengan Raja Taejo sebagai raja pertama. Kebudayaan bangsa Korea yang berlandaskan Konfusianisme berkembang pesat pada masa ini (Yang dan Setiawati, 2003: 42). Pada masa Kerajaan Koryo perkemabangan bangsa Korea tidak hanya pada kebudayaan yang berlandaskan Konfusianisme tapi juga perkembangan pendidikan mengenai Konfusianisme. Pertumbuhan institusi pendidikan Konfusianisme dimulai pada abad ke-10 dan terus berlanjut sampai abad ke-11. Terutama penting bagi penciptaan sekolah swasta pendidikan Konfusianisme. Sebelumnya, pendidikan formal Konfusianisme merupakan hak khusus pemerintahan (Grayson, 2002:90).
Selama masa pemerintahan raja Songjong fungsi upacara pada leluhur didedikasikan untuk surga. Pengabdian kebajikan orang-orang Korea semula didedikasikan untuk konfusius. Neo-konfusianisme menjadi gelombang baru di Korea menjelang akhir dinasti Koryo (Keum, 2000: 37). Neo-konfusianisme memiliki perbedaan yang besar dalam memandang alam semesta dan dunia dibanding Buddha. Neo-konfusianisme percaya bahwa seseorang harus menerima dan mengerti sifat dasar dari alam semesta dan mendirikan filosofi pemerintahannya dan bekerja lebih keras untuk mengatasi permasalahan kehidupan sehari-hari (Yi, 1997;16-17).
Konfusianisme di Korea berpindah dari satu diantara pengaruh beberapa politik dan budaya menjadi pengaruh sosial utama. Dalam era ini, sistem Konfusianisme sosial yang sesungguhnya mulai muncul (Grayson, 2002: 104).
3) Neo-konfusianisme Pada Masa Dinasti Choson
Choson berdiri pada tahun 1392 dengan raja pertamanya Yi Song-gye. Pada masa Choson ilmu Konfusianisme dijadikan sebagai dasar teori dalam memerintah kerajaan (Yang dan Setyawati, 2003: 65).
Penciptaan pemerintahan baru Choson tidak hanya melahirkan dinasti Korea baru, tetapi juga membuat ajaran Konfusianisme lebih kuat. Berbeda dari dinasti lain terdahulu, ideologi Kerajaan Choson berdasar pada filosofi Konfusianisme. Dari abad ke-5, pengaruh Konfusianisme menjadi penanda pengaruh sosial bukan sekedar pengaruh politik dan sosial (Grayson, 2002: 112). Struktur pemerintahan dipengaruhi untuk dapat mendirikan kerajaan yang berlandaskan Konfusianisme (Yang dan Setyawati, 2003: 65). Dalam proses pengembangan institusi dan penguatan ekonomi pada abad ke-15, praktek etika dan aspek ritual Neo-konfusianisme menekankan pada aspek filosofi di Choson (anonim a, 20002: 67).
Pada awal abad ke-17, Neo-konfusianisme berkembang dengan penanganan khusus pada ajaran etika. Ajaran Neo-konfusianisme berpusat pada ritual keluarga. Periode ini melihat pembudayaan etiket populer dan untuk mengerahkan pengaruh yang lebih besar pada kehidupan masyarakat. Etiket keluarga bervariasi atara strata masyarakat yang berbeda-beda, tapi secara luas dipraktekan oleh keluarga biasa. Meskipun berbeda dengan penerapannya, akan tetapi semua praktek didirikan oleh prinsip yang sama ( Keum, 2000: 41). Pada abad ini, ahli Neo-konfusinisme menegaskan kekuatan mereka walaupun terjadi kerusuhan didalam dan diluar. Invasi Jepang pada 1592 dan 1597 serta invasi Manchu pada 1636 memberikan sebuah kesempatan untuk menguji kembali peran Neo-konfusianisme sebagai ideologi dominan. Pembelajaran ritual berkembang pesat pada abad 17 sebagai sebuah pelajaran ilmiah. Pembelajaran dinamakan “Masa Pembelajaran Agama” dan banyak kontroversi terjadi pada saat itu (anonim a, 2002: 74-79).
Awal abad ke-18, kontroversi menggelora diantara ahli Neo-konfusianisme seperti perbedaan klasik antara manusia dan persoalan yang ada. Peristiwa ini membuktikan bahwa Non-konfusianisme di Kerajaan Choson diperhatikan dengan fokus studi kemanusiaan (Keum, 2000: 42).
Ketika Katolik masuk ke Korea pada 1784, Neo-Konfusianisme berusaha menekan usaha masuknya agama ini ke Korea. Rintangan besar menerima Katolik oleh masyarakat Choson adalah Katolik melarang pemujaan kepada leluhur, upacara Konfusianisme yang paling dasar. Kekerasan dan sistem kepercayaan fanatik masyarakat Choson yang diatur oleh Konfusianisme, menolak masuknya Katolik (Keum, 2000: 43-45).
4) Konfusianisme Pada Masa Kemerdekaan
Bersama dengan bebasnya Korea dari Jepang pada 1945, Para ahli Konfusianisme membangun kembali jaringan organisasi mereka. Pada bulan Maret 1946, perwakilan berkumpul untuk membuka pusat Yudohe (Masyarakat Konfusius). Sebagai afiliasinya yayasan Songgyun’gwan didirikan untuk mengambil alih manajemen Songgyun’gwan ( Akademi Konfusius Nasional) di Seoul dan Hyanggyo (akademi lokal) dibagian lain Korea. Pada bulan Sepetember tahun 1946 didirikan Universitas Songgyun’ gwan atas usaha Kim Chang- Suk (Keum, 2000:46).
Pada tahunn 1980, pengikut ajaran Konfusius mengadakan inagurasi Lembaga Penelitian Konfusius pada 1985 untuk mendorong penelitian ilmiah melalui seminar berkala dan terbitan jurnal yang mendorong sebuah reinterpretasi modern ideologi Konfusius Tradisional (Keum, 2000: 49).
5) Konfusianisme dan Budaya Komtemporer Korea
Saat ini, nilai-nilai modern barat mengancam nilai-nilai ortodoks Konfusianisme tradisional Korea. Kebudayaan Korea mengakar kuat pada Konfusianisme dimana bertanggung jawab untuk mempertahankan peninggalan negara yang dihormati dan memperkaya perkembangan kebudayaannya.
Pertama, Konfusianisme harus mendukung integritas dan keberlanjutan sejarah Korea dengan reformasi dan menyesuaikan diri dengan masyarakat kontemporer. Kedua, Konfusianisme bisa memberikan masyarakat kontemporer Korea dengan sebuah standar praktik pelaksanaan dalam bentuk ritual dan etiket. Ketiga, Konfusianisme memperkuat struktur masyarakat. Keempat, moral Konfusius dan karakternya dikontribusikan untuk kehidupan masyarakat Korea di masa kini. Kelima, semangat Konfusius akan dijalankan sebagai tenaga penggerak manusia untuk mencari keadilan.
Konfusianisme Korea adalah sesuatu di masa lalu. Konfusianisme masih bertahan sampai saat ini. Tugas mendesak bagi komunitas Konfusius Korea adalah menyesuaikan fungsinya pada kondisi yang berlaku di masyarakat modern melalui sebuah reformasi dinamis dan aktivitas (Keum, 2000: 49-51)
Nilai-nilai Ajaran Konfusianisme
Konfusianisme mengajarkan sebuah nilai moral yang berdasarkan pada etika kemanusiaan, dan cinta. Konfusius mengajarkan filosofi yang menekankan pada ketentraman dan keharmonisan, meskipun ia hidup pada masa kerusuhan. Dalam filosofinya, seorang laki-laki adalah orang yang mengembangkan 5 nilai kesopanan (cinta, hormat, peduli, diskriminasi, dan loyal), kemurahan hati, kesetiaan, ketekunan, dan kebaikan (Dorothy, 2004: 8). Menurut Konfusianisme terdapat 5 elemen dasar manusia yakni ren, yi, li, zhi, xin (Wenhuai Chai dan Xu Yuang, 2006: 368).
Ren berarti kebajikan.
Yi berarti keadilan.
Li berarti kesopanan.
Zhi berarati kebijaksanaan.
Xin berarti kesetiaan.
Ren berarti kebajikan.
Yi berarti keadilan.
Li berarti kesopanan.
Zhi berarati kebijaksanaan.
Xin berarti kesetiaan.
Keluarga adalah lingkungan inti dalam pendidikan moral dan merupakan jembatan antara individu dan masyarakat. Konfusius menekankan tugas dan kewajiban setiap anggota keluarga dan percaya masing-masing harus bersikap berdasarkan pada perannya. 5 hubungan manusia menurut Konfusius 3 didalam keluarga, yakni:
Hubungan ayah dengan anak laki-lakinya.
Hubungan suami dengan istrinya.
Hubungan kakak laki-laki dengan adik laki-lakinya.
Dua hubungan lain yang disebutkan Konfusius adalah hubungan diluar keluarga, yakni:
Hubungan teman dengan teman.
Hubungan penguasa dengan rakyat.
Hubungan yang terpenting adalah hubungan ayah dengan anak laki-lakinya. Anak laki-laki memberikan perhatian dan patuh pada ayahnya. Sebagai anak laki-laki dewasa, anaknya harus menghormati ayahnya meskipun ayahnya sudah meninggal. Anak laik-laki bertanggung jawab untuk persembahan pada jiwa ayahnya (Dorothy, 2004: 10).
Dinasti Choson mulai menyebarkan etika sosial Neo-konfusianisme, 3 ikatan dan 5 hubungan (samgang oryun) merupakan nilai dasar dari etika sosial Konfusianisme (anonim a, 2002: 66). Neo-konfusianisme meliputi hubungan yang lebih luas dan lebih fleksibel dibandingkan dengan Konfusianisme klasik. 5 hubungan dalam ajaran Neo-konfusianisme pada masa dinasti Choson sama dengan 5 hubungan yang dikemukakan konfusius dalam ajaran konfusianisme klasik. Neo-konfusianisme pada masa dinasti Choson menambahkan 3 ikatan dalam ajarannya. 3 ikatan yang dikemukakan itu adalah:
Hubungan ayah dengan anak laki-lakinya.
Hubungan suami dengan istri.
Hubungan penguasa dengan rakyat.
3 ikatan dan 5 hubungan tersebut diaplikasikan diseluruh hubungan sosial termasuk istri dan selir, anak yang dilahirkan dari pernikahan yang sah dan tidak sah, majikan dan pembantu, serta pemilik tanah dan penyewa tanah (anonim a, 2002: 66).
Chai, Wenhua, Yang Xu. 2006. Traditional Confucianism in Modern Cina: Mayifu’s Ethical Trought dalam Frontiers of Philosophy in China, Vol 1, No.3.
Keum, Jang-Tae. 2000, Confucianism and Korea Thought. Seoul: Jimoondang.
Hubungan ayah dengan anak laki-lakinya.
Hubungan suami dengan istri.
Hubungan penguasa dengan rakyat.
3 ikatan dan 5 hubungan tersebut diaplikasikan diseluruh hubungan sosial termasuk istri dan selir, anak yang dilahirkan dari pernikahan yang sah dan tidak sah, majikan dan pembantu, serta pemilik tanah dan penyewa tanah (anonim a, 2002: 66).
Chai, Wenhua, Yang Xu. 2006. Traditional Confucianism in Modern Cina: Mayifu’s Ethical Trought dalam Frontiers of Philosophy in China, Vol 1, No.3.
Keum, Jang-Tae. 2000, Confucianism and Korea Thought. Seoul: Jimoondang.
thanks, bermanfaat banget
BalasHapuskebetulan saya juga lagi nyari bahan buat final paper mata kuliah Theory Of Culture...thanks banget penjelasan dan sumbernya ^^~
wish you always luck..
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapuskamsahamnida y :)
BalasHapustulisannya membantu sekali...
Tulisan yang sangat bermanfaat namun kalau boleh saya sedikit mengkoreksi tulisan anda. Nabi Konghucu (Kung Zi) bukanlah penemu agama Konghucu (Ru Jiao) tetapi beliau hanyalah meneruskan ajaran yang telah diajarkan oleh Nabi Nabi jauh sebelum beliau lahir. Seperti yg tertulis dalam kitab Sishu bagian Sabda Suci (Lun Yu) jilid VII ayat 1, Nabi bersabda, "Aku hanya meneruskan, tidak menciptakan. Aku sangat menaruh percaya dan suka kepada ajaran dan kitab kitab yang kuno itu". Agama Ru Jiao lebih dikenal sebagai agama Konghucu karena Nabi Konghucu dan murid murid Beliau lah yang paling banyak konstribusinya dalam menebarkan agama Ru Jiao sehingga tersebar di seluruh bumi dan dikenal sampai dengan hari ini. Terima kasih.
BalasHapusTerima Kasih banyak atas koreksinya^^, tulisan itu bersumber pada buku diatas mohon maaf klo ada kekurangan. Oya maaf saya baru bls udh sekian lama:)
Hapusmaaf mau nanya berarti nilai moral dalam korea itu mengikuti ajaran konfusianisme ?
BalasHapusdan nilai moral tersebut terbagi menjadi 5: kebajikan, kebenaran & keadilan, etika, kebijaksanaan dan kepercayaan?
atau terbagi menjadi 5 tetapi yang Ren Yi Li Zhi Xin?
mohon bantuannya ^^